Sabtu, 27 Oktober 2012

Kita muda, kita kuat, kitalah perubahan


Kita muda, kita kuat, kitalah perubahan

Di atas perut bumi aku dan kau berpijak
Hembusan alam gunung dan laut penuh jejak
Aku belajar menjadi bijak
Melihat orang yang banyak beteriak
Sudah sampai dimana kah meraka beranjak
Membelah suku, ras dan budaya di balik sajak
Melupakan akar rumput yang menangis terisak-isak
Pada mereka  yang sedang terbahak-bahak
Membagi strategi yang dipetak-petak
Tak heran rakyat pun memberontak
Ingin memisahkan diri dengan serentak
Pemimpin mengira itu hanya gertak
Padahal sudah saatnya  jantungnya mulai berdetak

Beda pendapat kapan lahirkan tempat sependapat
Banyak rancangan katanya tidak tepat karena belum sempat
Hadirkan satu ideology yang terkandung beragam filosofi
Padahal jelas kita adalah satu bangsa, berbahasa satu untuk tidak saling memangsa, memegang kuasa ingat pada yang  Maha Kuasa.
Dari sabang sampai merauke banyak keluh bercerai antara kepentingan dan keuntungan
Sehingga kesejahteraan yang adalah anak sulung bangsa pun dirampas haknya
Bendera membedakan daerah tapi darah sama warna merah
Tanamkanlah mereka di bukit persatuan dan lihatlah buah peradabannya di cakrawala bangsa yang berdudaya, penuh gaya Indonesia jaya di seluruh raya

Jangan saling melempar apalagi menampar
Kita muda, kita kuat, kitalah perubahan
Jaga hati dan bahasa dalam komunitas
Perdaban yang kuat melemahkan yang lemah
Kita bangsa yang tak sepatutnya dibilang lemah
Jangan lengah, rapikanlah barisan mulailah melangkah

Satu, dua , setengah atau seperempat
Takaran memang harus tepat
Jangan main asal cepat seperti pesawat yang berpindah tempat
Mencari nikmat tanpa berpegang pada hikmat
Akhirnya semua tamat karena terlambat dan berkata semua itu sudah keramat
Ouw…ouw…oh…. Semua orang kini sudah terikat pada segudang makna yang berlipat-lipat tak tersirat di atas ladang pergolakan penuh jerat.

Saudaraku di barat,timur bahkan utara dan selatan
Tak ada waktu lagi saling melempar beban
Marilah berpegang tangan buatlah jembatan
Agar bertukar informasi tidak menciptakan konfrontasi
Dan hak asasi kita benah untuk harmonisasi
Serta janganlah terus diatur tapi jadilah pengatur
Karena pemuda saat ini jangan jadi korban perubahan tapi jadilah pelaku perubahan
Sesungguhnya kita diwarisi karya penciptaan untuk membawa bangsa ini keluar dari kabut kesenjangan
Maka orang lain akan bangun dari keterjagaan dan menatap kita penuh kekaguman.

Kehidupan memberi kita banyak alasan agar tersenyum, bahagia dan menangis dalam lantunan syair-syair yang manis penuh haru dan mungkin kau bisa jabarkan sendiri ketika lidahmu tak mampu mengabarkan pada hatimu bahwa ada kekaguman yang tak bisa dikatakan yang mewakili jati diri untuk berdiri.

Aku bermimpi, berangan dan melayang tak hanya selayang pandang
Memandang realita yang kini sedang disandang kebanyakan orang di kursi terpandang.
Kebijakan, implementasi tak seturut dasar cinta, seperti cerita di ujung malam gulita, tebarkan dongeng yang dilupakan di waktu pagi menyerta.
Oh..oh… bangsaku derita, akupun derita.
Pena saja tak hanya cukup dengan tinta
Bila mau menghasilkan karya yang mulia




Sroyer M Alfons, *Renungan kepemudaan di kabut pagi* 28 Oct 2012

Tidak ada komentar:

Posting Komentar