Kita muda, kita kuat, kitalah
perubahan
Di atas perut bumi aku dan kau
berpijak
Hembusan alam gunung dan laut penuh
jejak
Aku belajar menjadi bijak
Melihat orang yang banyak beteriak
Sudah sampai dimana kah meraka
beranjak
Membelah suku, ras dan budaya di
balik sajak
Melupakan akar rumput yang menangis
terisak-isak
Pada mereka yang sedang terbahak-bahak
Membagi strategi yang dipetak-petak
Tak heran rakyat pun memberontak
Ingin memisahkan diri dengan
serentak
Pemimpin mengira itu hanya gertak
Padahal sudah saatnya jantungnya mulai berdetak
Beda pendapat kapan lahirkan tempat
sependapat
Banyak rancangan katanya tidak
tepat karena belum sempat
Hadirkan satu ideology yang
terkandung beragam filosofi
Padahal jelas kita adalah satu
bangsa, berbahasa satu untuk tidak saling memangsa, memegang kuasa ingat pada
yang Maha Kuasa.
Dari sabang sampai merauke banyak
keluh bercerai antara kepentingan dan keuntungan
Sehingga kesejahteraan yang adalah
anak sulung bangsa pun dirampas haknya
Bendera membedakan daerah tapi
darah sama warna merah
Tanamkanlah mereka di bukit persatuan
dan lihatlah buah peradabannya di cakrawala bangsa yang berdudaya, penuh gaya
Indonesia jaya di seluruh raya
Jangan saling melempar apalagi
menampar
Kita muda, kita kuat, kitalah perubahan
Jaga hati dan bahasa dalam
komunitas
Perdaban yang kuat melemahkan yang
lemah
Kita bangsa yang tak sepatutnya
dibilang lemah
Jangan lengah, rapikanlah barisan
mulailah melangkah
Satu, dua , setengah atau
seperempat
Takaran memang harus tepat
Jangan main asal cepat seperti
pesawat yang berpindah tempat
Mencari nikmat tanpa berpegang pada
hikmat
Akhirnya semua tamat karena
terlambat dan berkata semua itu sudah keramat
Ouw…ouw…oh…. Semua orang kini sudah
terikat pada segudang makna yang berlipat-lipat tak tersirat di atas ladang
pergolakan penuh jerat.
Saudaraku di barat,timur bahkan
utara dan selatan
Tak ada waktu lagi saling melempar
beban
Marilah berpegang tangan buatlah
jembatan
Agar bertukar informasi tidak
menciptakan konfrontasi
Dan hak asasi kita benah untuk
harmonisasi
Serta janganlah terus diatur tapi
jadilah pengatur
Karena pemuda saat ini jangan jadi
korban perubahan tapi jadilah pelaku perubahan
Sesungguhnya kita diwarisi karya
penciptaan untuk membawa bangsa ini keluar dari kabut kesenjangan
Maka orang lain akan bangun dari
keterjagaan dan menatap kita penuh kekaguman.
Kehidupan memberi kita banyak
alasan agar tersenyum, bahagia dan menangis dalam lantunan syair-syair yang
manis penuh haru dan mungkin kau bisa jabarkan sendiri ketika lidahmu tak mampu
mengabarkan pada hatimu bahwa ada kekaguman yang tak bisa dikatakan yang
mewakili jati diri untuk berdiri.
Aku bermimpi, berangan dan melayang
tak hanya selayang pandang
Memandang realita yang kini sedang
disandang kebanyakan orang di kursi terpandang.
Kebijakan, implementasi tak seturut
dasar cinta, seperti cerita di ujung malam gulita, tebarkan dongeng yang
dilupakan di waktu pagi menyerta.
Oh..oh… bangsaku derita, akupun
derita.
Pena saja tak hanya cukup dengan
tinta
Bila mau menghasilkan karya yang
mulia
Sroyer
M Alfons, *Renungan kepemudaan di kabut pagi* 28 Oct 2012
Tidak ada komentar:
Posting Komentar