Jumat, 24 Juni 2011

Mendamba


Mendamba
Ketika indah terlukis di cakram rembulan
Ku bertanya ada apa di balik tirai sepi
Perlahan waktu melahap sisa masaku di penghujung malam
Tak lain yang ku renung adalah Cinta

Perjalanan ini terlalu panjang
Mengisahkan sosok seorang pertapa yang berbaring dalam kelambu hening
Tongkat yang menunggang hari-harinya
Kini melemah di relung tanya
Mungkin saja di luar sana banyak yang mencintainya

Alfons Sroyer, 21 Maret 2011 *Mandamba yang mencintai*

Cinta Lentera Sukma


Cinta Lentera Sukma
Jiwaku yang tersilami dari lautan aksara kini bengkit merona di lembabnya hati para penyejuk kalbu
Ku terpana namun kenapa masih merana?
Ah.. serumpun ungkap jiwa mudaku meluap-luap pada tingkatan aroma cinta yang melahirkan wangi dari lembah gelora
Ku puja kini diriku saja, namun ada lagi yang ingin ku manja.

Penenun asmara kini menyulam jubah asmara dengan jarum aksara pada kulit hatiku yang rindu pada berutas-utas kata mesra.

Oh… cinta lentera sukama..

Mengapa kau meyeretku dalam dekapan semak tanya hingga ku tersesat menelaah arti sebuah kerinduan yang di taburi benih-benih kasih…


Alfons Sroyer *Dalam gelapnya Cinta*. 12 Maret 2011

Rabu, 15 Juni 2011

Papua Kenapa Kau Menangis

Papua Kenapa Kau Menangis

Ini bumi tempat semua terjadi, mulai dari kelahiran hingga kematian tanpa ada banyak keadilan ku temu. Apabila sejarah berkata hidup adalah perjuangan, maka sampai hari ini lukisan sejarah itu tak berhenti. Perjuangan yang dimaksud sudah tidak sama dengan yang ku baca di buku legenda. Aku manusia sama dengan yang lainnya, tapi sesungguhnya kita tak sama. Lihat saja dirimu mulia ciptaan Tuhan tapi kelakuanmu tak mulia bagi yang juga sama mulia denganmu. Lantas kebanggaan apa yang dapat kau buat di bawah mentari bagi sang Maha Mulia?
Indah tanahku, indah pula roh yang mendiaminya. Kau tempat di panggilnya mentari tuk menerangi dunia. Ketika tirai malam mulai di buka, dia jauh di ujung barat, ku tatap seakan dia lemah di ujung fatamorgana. Sejauh dia pergi  oh… wahai mentari pusaka dunia, hanya Negriku tempat kau berbabaring. Kata Mitos Yunani kau adalah Dewa dan  kau berbaring di negriku, apakah negriku tempat berbaringnya para Dewa?. Sejak kau bangun, apakah kau nampak negriku? Katakan padaku apa yang ada di dalamnya? Katakan padaku apa yang kau jumpai di mata saudara/i ku? Legenda berkata, mitos mendengar. Bersama mereka menjaga surga kecil di ujung timur dunia. Cahaya dunia dimana-mana namun surya nirwana masih tetap ada untuknya. Dia elok, dia mempesona, dia alasan aku dilahirkan, dia adalah aku dan dia berkata bahwa aku juga adalah dia. Semua dunia tahu dia, dia gadis kecil yang memberi makan bangsa-bangsa. Semua kagum padanya, banyak yang jatuh cinta dan ingin memilikinya, namun mereka semua adalah penipu.
Ketika embun terakhir menetes dari daun kering, angin lembah datang memberi lembaran baru pada dunia, dewa-dewi menanti laporan hari ini, tapi ada satu laporan yang dari dahulu tetap sama, yakni dari ujung timur dunia. Maka lembaran yang di terimanya bukan lembaran kosong, melainkan di atas lembaran itu tertulis sebuah pertanyaan untuk di jawab. Pertanyaan yang melimpah dengan kasih, pertanyaan yang di tulis dengan tinta malaikat tertinggi dan di seduh dengan dawai kecapi surga, pertanyaan itu adalah….. Papua kenapa kau menangis???



                                                                                                                                        *Suara Negriku, Ungkapan Jiwaku*

Alfons M Sroyer, 7 Juni 2011