Dua pejabat tinggi Iran yakni Presiden
Hassan Rouhani dan pemimpin tertinggi Ayatollah Ali Khamenei bersilang pendapat
dalam hal kesetaraan gender. Hari minggu kemarin 20 April 2014 yang diperingati
sebagai hari Perempuan, di Iran Presiden Hassan Rouhani menyerukan agar
perempuan dan laki-laki diberi hak yang sama. Dalam acara yang dihadiri oleh
kalangan elite perempuan Iran, Presiden Hassan Rouhani menyatakan "Saya,
sebagai kepala pemerintahan, mengakui terdapat begitu banyak kekurangan terkait
dengan pembelaan hak-hak perempuan.” Beliau juga menambahkan bahwa
"berdasarkan kriteria Islam, kami tidak memandang laki-laki sebagai jenis
kelamin pertama atau perempuan sebagai jenis kelamin kedua. Mereka sama-sama
mempunyai martabat manusia dan tak satu pun dari mereka yang lebih tinggi dibanding
lainnya." Pernyataan tersebut bersebrangan dengan pemimpin tertinggi
Ayatollah Ali Khamenei, ia menyatakan bahwa persamaan gender merupakan konsep
Barat yang harus dijauhi. Ia juga mengatakan bahwa kaum perempuan harus
memusatkan perhatian pada kewajiban-kewajiban mereka dalam mengurus keluarga.
Pernyataan tersebut dapat memberi suatu pandangan atau asumsi bahwa dua
pemimpin tinggi di Iran masih belum sepihak mengenai masalah kesetaraan gender,
dari pernyataan-pernyataan diatas artinya Iran masih mengalami perbedaan serta ketimpangan dan masih ada batas-batas
berdasarkan posisi total mereka dalam susunan stratifikasi atau faktor
penindasan dan hak istimewa berdasar kelas, ras, etnisitas, umur, status
perkawinan, dan posisi global. Maka dapat dilihat bahwa sistem patriarki masih
sangat kental disana. Secara terminologi patriarki digunakan untuk pemahaman
kekuasaan laki-laki, hubungan kekuasaan dengan apa laki-laki menguasai
perempuan, serta sistem yang membuat perempuan tetap dikuasai melalui bermacam-macam
cara. Jelas keadilan belum benar diterapkan bila kenyataannya seperti itu.
Hal ini sangat berbeda dengan bangsa kita Indonesia yang menjunjung
tinggi masalah gender. Sebagai negara dengan jumlah penduduk terbesar ke empat
di dunia, kesetaraan gender sudah terbukti sangat dijunjung oleh bangsa ini.
Masalah persamaan hak (gender) sudah dari zaman sejarah diperjuangkan oleh
seorang tokoh terkenal yakni Raden Ajeng (RA)
Kartini yang kini menjadi simbol perjuangan perempuan, dan diperingati pada
hari ini Senin, 21 April. Indonesia sudah pernah menoreh sejarah dengan
tinta emas yaitu bahwa perempuan sudah pernah mencapai tampuk kepemimpinan
tertinggi di negeri ini, yaitu Presiden Megawati Soekarnoputri. Dewasa ini juga
sudah banyak perempuan Indonesia yang menduduki posisi-posisi penting baik
dalam negeri maupun internasional. Hal ini memperlihatkan kepada dunia bahwa
Indonesia sebagai negara majemuk sudah menjalankan keadilan sosial dan budaya. Isu
gender sudah menjadi isu global, Indonesia sudah merubah tantangan itu menjadi
peluang, dan hal ini menjadi aset diplomasi di bidang sosial budaya. Tinggi
rendahnya kualitas seseorang hanya terletak pada tinggi-rendahnya kualitas
pengabdian. Intinya selama keadilan masih bisa dijaga dan ditegakan maka isu
jender tidak perlu dipandang sebagai masalah. Setiap warga negara harus diberi
ruang untuk bergerak aktif dalam mengisi kemerdekaan negaranya.