Jumat, 22 April 2011

Kau ayu tempat hatiku membayu


Kau ayu tempat hatiku membayu
Ketika lelah menyapamu di hadir malam
Ku ingin kau tahu...
Selelah waktumu berdentang
Tak selelah jiwa dan hatiku melantang

Kau ayu tempat hatiku membayu

Sungguh bukan dengan rayu
  Hadirmu ku takar
Namun dengan layu
  Kasmaran coba-coba ku pagar

Indah sejuta tanyamu
Membuat lidahku terdiam dalam rawa sepiku
Dan mencoba mengucap niat yang menyilami kalbu
Agar cintaku tak lagi kelabu

Riak air dihapanku
Rasanya aku ingin berlari
Mengejar gelora hadirmu
Yang membuatku selalu ingin menari

Oh kau indahku.....

Alfons M Sroyer 12 April 2011 *Saat jiwa di rayu*

Senin, 18 April 2011

Aku dan Impian


Aku Dan Impian
“Kau menciptakan sejarah dalam hidupku”
Itu kata yang  kalungkan Ayah ketika ku lahir
“Kau permata bersenandung iba”
Itu lagu yang dinyanyikan ibu ketika ku dibujuk dalam palungannya
“Di dadamu terukir nama kami”
Itu sapaan yang di haturkan saudara-saudaraku
ketika ku keluar melihat fajar

            Aku bertanya pada Tuhan
            “Adakah penaku berisi tinta masa depan?”

Siapakah aku yang menjadi kebanggaan tanah leluhur?
Adakah aku bermeterai Harkat anak negri?

            Apa yang gemilang kan ku pajang
            Apa yang ku dulang kan KAU pandang
            Sekalian bintang ku ambil secara gamblang
Untuk menemaniku di waktu remang




Mudah ku lantunkan sejuta kesan
Karena aroma hidup sering ku hirup
Di pembaringan yang kadang redup
Tanpa lama-lama tuk melamun

Sewaktu kecil ku dipanggil kumbang PAPUA
            Sewaktu remeja ku disapa penabur gelora
            Kemarin Ku dibilang pembuat TAKHTA
            Aku bertanya “Lantas siapa yang kan mendudukinya?”
            Jawab mereka “KAU sendiri”

Aku tahu apa yang ku pijak
Bahwasanya banyak beling berserakan
Dan melukai tapak langkahku
Di sela-sela rumputpun selalu ada

Sewaktu berbaring di kelembaban Surga
Aku bertanya pada bintang fajar
            “Kau tahu apa itu kesedihan?”
            Jawabnya…
            “Kesedihan hanyalah setetes racun yang jatuh dalam cawan kebahagiaan”


Aku bertanya lagi…
            “Apa yang kau tahu tentang kesepian?”
Jawabnya…
“Kesepian adalah makanan pembuka yang harus kau nikmati
            di kala keramaian membuatmu lapar akan renungan yang panjang
            dan kau akan mengakhirinya dengan meneguk anggur para malaikat”

Aku bertanya lagi untuk yang terakhir kalinya…
“Apa yang kau tentang kita?”
Jawabnya…
“Kau adalah Penoreh, Pengukir bahkan perangkai di tengah detak jantung sang waktu
Sedangkan aku adalah bintang suci yang menghiasi fajar di pertengahan pagi tepatnya di atas fatamorgana
Kita diciptakan dengan keindahan ketika dawai kecapi Surgawi dipetik Jari sang Pencipta”

Penyu tua usai menyebrang Samudra
Merayap lemas diujung tanjung
Menyeret dada dengan nafas lelah
sambil mencari pasir yang ditemani rembulan
Hanya untuk mengubur titipan Tuhan di daratan Papua

Arwah para nakoda sejarah menyaksikannya
Mereka melihat para pendayung badai berbaring dalam selimut pahlawan
Segenap penghuni alam bersumpah untuk menetaskan mereka

Segerombolan kepiting lari berserakan kedalam liang pengecut
Mereka mengintip lalu bertanya…
“ Oh… Mereka kah para serdadu fajar??
            Hingga nampak mentari lahir di pundak mereka”


Alfons M. Sroyer [ Lumbung Impian] 13 nov 2010

Sabtu, 16 April 2011

Keresahan di lembah Sepi

Tangis kabungku adalah wujud ukiran cintaku yang tersilami dari lautan aksara yang membahana di altar hatimu.
Bila kelak bagianku hanyalah mengindahkan sayap-sayap pena di ujung tanduk keresahan.
Biarlah hatiku menikmati Cinta di atas kertas yang membuat sejarah para penyair mulia di sangkar karya.
                ALFONS Sroyer *Keheningan melahap sukma*

Kamis, 07 April 2011

Sedikit Tentang Kebebasan

Sedikit Tentang Kebebasan
Saat itu aku tak tidur hingga surya diiringi kicauan burung dan ku lihat indahnya embun menetes lenyap. Getar tanganku saat menulis padahal aku ingin menulis tentang apa yang berkecimpung dalam benak. Segelas kopi meracuni waktu istirahatku, aku mulai berpikir tentang sosok sebuah kebebasan yang mengawang di tirai kehidupan. Ada yang memiliki kelebihan, ada yang memiliki kekurangan. Sebenarnya keselarasan hidup ini ada dimana? Di jalanan?, di terminal? Atau didalam kamar?.
Garis pandang masa depan sering kali ditarik dari udara kemudian masuk kedalam paru-paru si pemikir namun ketika itu dihirup , sering kali menyesakkan dada dan memberi celah bagi pikiran buruk untuk tertawa. Bila ada seorang pemimpin duduk dalam ruangannya, sering kali ia membersihkan kotoran kukunya akibat liarnya jari menggaruk sebuah benda atau badan sendiri, semua itu agar hasil kekotorannya tak terlihat. Apa aku salah? Apakah potret realita ini tak pernah kau lihat saudaraku?.
 Banyak kini penoropong jiwa yang di jual di setiap sudut jalanan, penuh debu dan tawar menawar yang tak pernah lelah. Itulah yang merusak persepsi dalam kata-kata, katanya penuh makna.
Aku punya beberapa sahabat yang menyembunyikan masalah dalam lumbung tawa, namun pada saat cuaca menjadi hening dan waktu melemah berputar, meraka mengungkapkan perkaranya bagaikan daun kuning yang telah tiba masanya untuk jatuh dari pohon, seakan kecewa karena tak ada buah. Ku katakan padanya “yang kau butuh adalah kebebasan” dia bingung kebebasan apa yang ku maksud, katanya ia telah sangat bebas saat ini tak ada yang melarangnya atau membatasinya. Aku tersenyum dan berkata padanya bahwa kini ia sedang diikat bahkan dililit rantai penyesalan penuh duri keresahan, “Kau tak bebas, kau belum merdeka karena pikiranmu sedang dijepit sesal, bila kau merasa merdeka mengapa kau menyesali semua yang telah kau buat?, kenapa kau sendiri membiarkan dirimu terikat dengan kecewa? Hingga jiwamu kini tak bebas, bukankah kebebasan itu dapat kau raih dengan renungan untuk menjadi lebih baik terhadap hari esok? lihat, dunia ini punya musim, kau masih bisa merdeka, jangan biarkan jiwamu terkulai dengan lilitan baru yang kau sendiri cipta”
   23, Sep 2010
.
Alfons Sroyer

Sabtu, 02 April 2011


Belum juga sudah
Bila kumelihat pasir
Jejak air ada diatasnya
Bila kumerenung nasib
Jejak pikir ada kening

Ku coba tuk bergeming
Air mataku takan kering
Desah nafasku diladang bening
Kini disaring hujan tebing

Tebar menebar jantungku berdebar-debar
Tebas sana, tebas sini tak ada yang harus dikebas

Aneh pikiranku meleleh
Melihat semua dalam tatapan menoleh
Pada mereka yang dikore namun tak mau untuk menoreh
Akan kasih ang sudah diperoleh

Dua tanjung menjaga selat
Siapa yang melintas takkan ditelan
Semuanya berlalu begitu saja
Namun ada nyanyian dibalik rembulan
Ketika cahayanya menari dikulit air

Sudah kukatakan indah
Sudah ku katakan pada sepi
Sudah pula ku katakan sudah
Namun semua ini belum juga sudah




Alfons M Sroyer, 18 agustus 2010, *Berdayung di laut pikir*