Senin, 18 April 2011

Aku dan Impian


Aku Dan Impian
“Kau menciptakan sejarah dalam hidupku”
Itu kata yang  kalungkan Ayah ketika ku lahir
“Kau permata bersenandung iba”
Itu lagu yang dinyanyikan ibu ketika ku dibujuk dalam palungannya
“Di dadamu terukir nama kami”
Itu sapaan yang di haturkan saudara-saudaraku
ketika ku keluar melihat fajar

            Aku bertanya pada Tuhan
            “Adakah penaku berisi tinta masa depan?”

Siapakah aku yang menjadi kebanggaan tanah leluhur?
Adakah aku bermeterai Harkat anak negri?

            Apa yang gemilang kan ku pajang
            Apa yang ku dulang kan KAU pandang
            Sekalian bintang ku ambil secara gamblang
Untuk menemaniku di waktu remang




Mudah ku lantunkan sejuta kesan
Karena aroma hidup sering ku hirup
Di pembaringan yang kadang redup
Tanpa lama-lama tuk melamun

Sewaktu kecil ku dipanggil kumbang PAPUA
            Sewaktu remeja ku disapa penabur gelora
            Kemarin Ku dibilang pembuat TAKHTA
            Aku bertanya “Lantas siapa yang kan mendudukinya?”
            Jawab mereka “KAU sendiri”

Aku tahu apa yang ku pijak
Bahwasanya banyak beling berserakan
Dan melukai tapak langkahku
Di sela-sela rumputpun selalu ada

Sewaktu berbaring di kelembaban Surga
Aku bertanya pada bintang fajar
            “Kau tahu apa itu kesedihan?”
            Jawabnya…
            “Kesedihan hanyalah setetes racun yang jatuh dalam cawan kebahagiaan”


Aku bertanya lagi…
            “Apa yang kau tahu tentang kesepian?”
Jawabnya…
“Kesepian adalah makanan pembuka yang harus kau nikmati
            di kala keramaian membuatmu lapar akan renungan yang panjang
            dan kau akan mengakhirinya dengan meneguk anggur para malaikat”

Aku bertanya lagi untuk yang terakhir kalinya…
“Apa yang kau tentang kita?”
Jawabnya…
“Kau adalah Penoreh, Pengukir bahkan perangkai di tengah detak jantung sang waktu
Sedangkan aku adalah bintang suci yang menghiasi fajar di pertengahan pagi tepatnya di atas fatamorgana
Kita diciptakan dengan keindahan ketika dawai kecapi Surgawi dipetik Jari sang Pencipta”

Penyu tua usai menyebrang Samudra
Merayap lemas diujung tanjung
Menyeret dada dengan nafas lelah
sambil mencari pasir yang ditemani rembulan
Hanya untuk mengubur titipan Tuhan di daratan Papua

Arwah para nakoda sejarah menyaksikannya
Mereka melihat para pendayung badai berbaring dalam selimut pahlawan
Segenap penghuni alam bersumpah untuk menetaskan mereka

Segerombolan kepiting lari berserakan kedalam liang pengecut
Mereka mengintip lalu bertanya…
“ Oh… Mereka kah para serdadu fajar??
            Hingga nampak mentari lahir di pundak mereka”


Alfons M. Sroyer [ Lumbung Impian] 13 nov 2010

Tidak ada komentar:

Posting Komentar