Selasa, 18 September 2012

Alfons Sroyer, West Papua Youth in Kangaroo Island


Alfons Sroyer, West Papua Youth in Kangaroo Island

KI Natural Resources  Meeting
Good day Kangaroo Island, my name is Alfons Manbebyar Sroyer, usually my friends call me Alfons. I am one of the AIYEP (Australia Indonesia Youth Exchange Program) participants who came from  West Papua. I am 23 years old and I am a student of The State University of Papua (UNIPA) majoring in English Literature and I live in Manokwari. Actually I was born in Biak Island, it is a beautiful small island in Cendrawasih Bay. I grew up there and after I  graduated from senior high school I continued my study in Manokwari  living in Metrox dormitory with my friends while studying at UNIPA.
Indonesia is an unique country because there are many islands, many cultures, many traditional languages, and so much more that I can not mention them one by one. It makes Indonesia full of colours. West Papua itself geographically includes what is called the bird’s head area and several surrounding islands. The populations in West Papua are heterogeneous. Tribe diversity, culture and religion is bound together in the spirit of Bhineka Tunggal Ika (even though we are different, we are united as one). West Papua has many tourism destinations including an amazing natural capital, warm tropical seasons, heterogeneous regional cultures, hundreds of species and a thousand kinds of endemic plants you can not find in other places. That is all little bit about my country.
On 19 November 2011, I  arrived in Kangaroo Island. It is a very beautiful place with a natural, clean environment, pure air, and many different species. It is wonderful.
On 28 November I have undertaken a work placement with the Community Engagement Unit of the Kangaroo Island Natural Resources Management Board. I have come at a time of great change within the organization as the Board. My supervisor was Beverley Maxwell. She is a smart, lovely, friendly, kind and hospitable lady. On the first day she introduced me to all the officers in the worksite and next door, they were all friendly and kind. One of them was my host father who I lived with on Kangaroo Island, David Taylor. I wanted to find out more about the organization’s structure, how the Government is prospering people, how they select new officers, how to make work plans, about the policies and what the main yield of KI is. Bev was great, she helped me and taught me so much. She understood I want to be a leader someday, therefore she took me seriously. I was able to gain first-hand experience of change management within Government Organization.  I attended the first integrated staff meeting of the occupants of the building discussing issues related to the shared workspace.
I have participated in three main activities while on placement with the Board. The first was a briefing meeting about the Annual Review and I assisted with its promotion by delivering promotional posters to businesses and notice boards around the town. I learnt the different methods the Board uses to promote its activities including paid newspaper advertising and its website. The second was Participation in a Key Community Event- The Christmas Tree Festival. This encourages business and organizations to participate, with funds raised going towards a local charity or not-for-profit organization. That was fun, because I was actively involved in constructing the Christmas tree on the theme ‘Feral Management’ and was creative in my ideas of displaying the theme. The third was Review of promotional material. I assisted in the review of Board promotional material that was undertaken as part of the premises move.
I have learn more about volunteer activities in Kangaroo Island and its Coastal habitat by attending a seminar run by Conservation Volunteers Australia and I has also extended my understanding of local government in Kangaroo Island and environmental and governance issues through discussion with staff, viewing websites and reading reports.  
At KI Natural Resources Management Board
‘Experience is the best teacher; Kangaroo Island is the best place’ I would like to say thank you very much to God for His blessing, to Indonesian and Australian Government for this program, Ibu Kris and Ibu Cathy as local coordinators, my host family David and Fiona Taylor for their hospitality, love, kindness, friendliness, and much more that I can not mention one by one, and also to my little host brothers Flynn and Hugh, I believe both of you will be smart boys. Thanks to Beverly Maxwell for everything that you gave to me, I can not forget about experiences that I got with you, it was very important for my future and career, warm regard also to all officers in Kangaroo Island Natural Resources Management Board, and for the bus school driver and also the best video editing (Garry). I like KI very much.

 
Alfons M. Sroyer
Youth Ambassador Australia- Indonesia (West Papua)

Selasa, 11 September 2012

Warnai Dunia Dengan Menulis


Menulis? Sudah berapa banyak hal yang ditulis saat anda berusia sekarang ini? Atau anda hanya akan menulis ketika ada tugas yang diberikan oleh dosen, guru, atau pimpinan yang mengharuskan anda membuat suatu laporan? Pertanyaan-pertanyaan diatas bisa saja mendapat jawaban yang berbeda dan melahirkan satu pertanyaan lagi yakni “seberapa dalamnya hakekat menulis itu bagi anda?
Sebenarnya apa manfaat menulis itu? Menulis dapat membuat kita ahli dalam berbicara. Ada banyak penulis yang bila berbicara mereka sangat ahli, hal ini disebabkan karena penulis adalah orang yang tiada pernah lelah membaca. Semakin banyak ia membaca maka semakin banyak informasi yang dapat ia tulis karena dengan membaca, pikiran kita atau wawasan kita semakin luas, maka jangan heran bila penulis itu ahli dalam berbicara karena wawasan yang dimilikinya. Ada juga orang-orang terkenal yang menulis tanpa harus banyak membaca karena mereka mengandalkan inspirasi dan ilham yang dimiliki dan mereka juga ahli dalam berbicara, mungkin anda juga memilki kemampuan seperti mereka. Memang jarang kita memiliki kedua kemampuan tersebut sekaligus namun setidaknya bila kita juga adalah penulis maka kita juga memiliki standar yang dibutuhkan dalam menyampaikan informasi yang tepat dan benar secara lisan maupun tulisan . Selain menulis dapat membuat kita ahli dalam berbicara ternyata ada banyak hal yang membuktikan bahwa menulis dapat membuat kita abadi.  
Mungkin saja saat ini banyak dari kita yang belum menyadari pentingnya menulis, padahal menulis itu dapat membuat kita menjadi abadi meski akhir setiap karir manusia adalah kematian. Sebut saja para penyair terkenal yang terus abadi dengan karya-karyanya seperti Charil Anwar sastrawan Indonesia yang terkenal dengan puisinya  berjudul AKU yang bertema Pemberontakan dari setiap bentuk penindasan atau sastrawan Libanon Khalil Gibran, salah satu puisi terkenalnya yakni Sayap-sayap Patah yang mengisahkan kasih tak sampai, disamping itu yang paling kita ketahui lagi yaitu tulisan para Nabi yang tertoreh dalam kitab suci. Mereka tetap hidup meski tubuh jasmani telah berbaring di liang lahat. Mereka adalah orang-orang hebat dan juga penulis hebat. Kita bisa saja berkata “saya tidak mungkin abadi seperti mereka lewat tulisan karena mereka penulis hebat”, lalu bagaimana bila kakek anda pernah menulis tentang ayah anda, atau menulis tentang sejarah keluarga anda lalu anda membacanya setelah ia telah tiada sejak dua puluh tahun lalu? Anda larut dalam bacaan itu, imajinasi anda mulai bermain dalam ruang waktu tanpa anda sadari anda telah membuat orang yang menulis cerita itu seolah-olah dia hidup dan sedang bercerita dengan anda. Orang-orang itu hidup dalam karya-karyanya, apa yang mereka tulis abadi dalam dalam hati dan hayalan para pembaca Inilah yang dimaksud dengan menulis dapat membuat kita abadi. Apa yang anda tulis mengungkapkan seperti apa diri anda. Lantas apa syarat-syarat untuk menulis? Terlalu banyak cara yang diungkapkan menjadi syarat untuk menulis, padahal syarat menulis itu hanya ada tiga yakni Menulis, Menulis dan Menulis! Kalau seperti itu maka apa yang sebaiknya ditulis? Harus dimulai dari mana?
Apabila kita ingin menulis buku mungkin hal itu terlampau jauh di pikiran, bagaimana mungkin bisa menulis buku sedangkan membuat tugas menulis dengan seribu kata saja susah, ditambah lagi bila tidak menemukan inspirasi untuk menulis sebuah buku. Eko Prasetyo seorang penulis buku berjudul Kekuatan pena dalam bukunya itu berkata bahwa dalam satu tahun terdiri dari 365 hari. Bila kita mau menulis satu lembar saja untuk sehari maka kita mampu menulis satu buku dengan 365 halaman dalam waktu 1 tahun, pertanyaannya apa yang ditulis? Yah itu tergantung diri kita sendiri. Mengutip kata-kata Muhamad Natsir “Mulailah dari apa yang ada. Sebab yang ada itu lebih dari cukup untuk memulai”. Punya cerita lucu, inspiratif, atau bahkan yang biasa saja? Tulislah!. Karena yang biasa di mata kita belum tentu biasa di mata pembaca.  Bisa juga mulai menulis tentang apa yang dikerjakan tiap hari, unek-unek, atau bahkan curahan hati dengan membuat alur sedemikian rupa dan menjadikannya sebuah cerita yang menarik, anda tau buku diary? Bisa saja mulai dari situ. Bila kita menemukan nikmatnya menulis, mungkin saja tidak dalam 1 tahun 365 lembar itu jadi, bisa dalam 3 atau 5 bulan saja. Jangan ragu untuk menulis, “musuh terbesar kreativitas adalah keraguan pada diri sendiri” – Sylvia Plath (novelis Amerika serikat). 
Masih banyak manfaat dari menulis, masih banyak pula hal yang bisa ditulis yang tidak diungkapkan dalam tulisan ini karena anda akan menemukannya sendiri bila anda mau memulainya sekarang atau anda sudah menemukannya karena anda sudah memulainya. Ambilah kuasmu (pena) dan melukislah di kanvas dunia. Mari warnai dunia dengan kreativitas dalam menulis.



                                                  Penulis,

Nama: Alfons M. Sroyer
TTL: Biak, 15 Agustus 1988
Alamat: Asrama Tingkat UNIPA Blok I (Metroxylon)
Mahasiswa Fakultas Sastra universitas Negeri Papua Angkatan 2007