Menulis?
Sudah berapa banyak hal yang ditulis saat anda berusia sekarang ini? Atau anda
hanya akan menulis ketika ada tugas yang diberikan oleh dosen, guru, atau
pimpinan yang mengharuskan anda membuat suatu laporan? Pertanyaan-pertanyaan
diatas bisa saja mendapat jawaban yang berbeda dan melahirkan satu pertanyaan
lagi yakni “seberapa dalamnya hakekat menulis itu bagi anda?
Sebenarnya
apa manfaat menulis itu? Menulis dapat membuat kita ahli dalam berbicara. Ada
banyak penulis yang bila berbicara mereka sangat ahli, hal ini disebabkan karena
penulis adalah orang yang tiada pernah lelah membaca. Semakin banyak ia membaca
maka semakin banyak informasi yang dapat ia tulis karena dengan membaca,
pikiran kita atau wawasan kita semakin luas, maka jangan heran bila penulis itu
ahli dalam berbicara karena wawasan yang dimilikinya. Ada juga orang-orang
terkenal yang menulis tanpa harus banyak membaca karena mereka mengandalkan
inspirasi dan ilham yang dimiliki dan mereka juga ahli dalam berbicara, mungkin
anda juga memilki kemampuan seperti mereka. Memang jarang kita memiliki kedua
kemampuan tersebut sekaligus namun setidaknya bila kita juga adalah penulis
maka kita juga memiliki standar yang dibutuhkan dalam menyampaikan informasi
yang tepat dan benar secara lisan maupun tulisan . Selain menulis dapat membuat
kita ahli dalam berbicara ternyata ada banyak hal yang membuktikan bahwa
menulis dapat membuat kita abadi.
Mungkin
saja saat ini banyak dari kita yang belum menyadari pentingnya menulis, padahal
menulis itu dapat membuat kita menjadi abadi meski akhir setiap karir manusia
adalah kematian. Sebut saja para penyair terkenal yang terus abadi dengan
karya-karyanya seperti Charil Anwar
sastrawan Indonesia yang terkenal dengan puisinya berjudul AKU
yang bertema Pemberontakan dari setiap
bentuk penindasan atau sastrawan Libanon Khalil Gibran, salah satu puisi terkenalnya yakni Sayap-sayap Patah yang mengisahkan kasih
tak sampai, disamping itu yang paling kita ketahui lagi yaitu tulisan para Nabi
yang tertoreh dalam kitab suci. Mereka tetap hidup meski tubuh jasmani telah
berbaring di liang lahat. Mereka adalah orang-orang hebat dan juga penulis
hebat. Kita bisa saja berkata “saya tidak mungkin abadi seperti mereka lewat
tulisan karena mereka penulis hebat”, lalu bagaimana bila kakek anda pernah
menulis tentang ayah anda, atau menulis tentang sejarah keluarga anda lalu anda
membacanya setelah ia telah tiada sejak dua puluh tahun lalu? Anda larut dalam
bacaan itu, imajinasi anda mulai bermain dalam ruang waktu tanpa anda sadari
anda telah membuat orang yang menulis cerita itu seolah-olah dia hidup dan
sedang bercerita dengan anda. Orang-orang itu hidup dalam karya-karyanya, apa
yang mereka tulis abadi dalam dalam hati dan hayalan para pembaca Inilah yang
dimaksud dengan menulis dapat membuat kita abadi. Apa yang anda tulis
mengungkapkan seperti apa diri anda. Lantas apa syarat-syarat untuk menulis?
Terlalu banyak cara yang diungkapkan menjadi syarat untuk menulis, padahal
syarat menulis itu hanya ada tiga yakni Menulis,
Menulis dan Menulis! Kalau seperti itu maka apa yang sebaiknya ditulis?
Harus dimulai dari mana?
Apabila
kita ingin menulis buku mungkin hal itu terlampau jauh di pikiran, bagaimana
mungkin bisa menulis buku sedangkan membuat tugas menulis dengan seribu kata
saja susah, ditambah lagi bila tidak menemukan inspirasi untuk menulis sebuah
buku. Eko Prasetyo seorang penulis buku berjudul Kekuatan pena dalam bukunya itu berkata bahwa dalam satu tahun
terdiri dari 365 hari. Bila kita mau menulis satu lembar saja untuk sehari maka
kita mampu menulis satu buku dengan 365 halaman dalam waktu 1 tahun,
pertanyaannya apa yang ditulis? Yah itu tergantung diri kita sendiri. Mengutip
kata-kata Muhamad Natsir “Mulailah dari
apa yang ada. Sebab yang ada itu lebih dari cukup untuk memulai”. Punya
cerita lucu, inspiratif, atau bahkan yang biasa saja? Tulislah!. Karena yang
biasa di mata kita belum tentu biasa di mata pembaca. Bisa juga mulai menulis tentang apa yang
dikerjakan tiap hari, unek-unek, atau bahkan curahan hati dengan membuat alur
sedemikian rupa dan menjadikannya sebuah cerita yang menarik, anda tau buku
diary? Bisa saja mulai dari situ. Bila kita menemukan nikmatnya menulis,
mungkin saja tidak dalam 1 tahun 365 lembar itu jadi, bisa dalam 3 atau 5 bulan
saja. Jangan ragu untuk menulis, “musuh
terbesar kreativitas adalah keraguan pada diri sendiri” – Sylvia Plath
(novelis Amerika serikat).
Masih
banyak manfaat dari menulis, masih banyak pula hal yang bisa ditulis yang tidak
diungkapkan dalam tulisan ini karena anda akan menemukannya sendiri bila anda
mau memulainya sekarang atau anda sudah menemukannya karena anda sudah
memulainya. Ambilah kuasmu (pena) dan melukislah di kanvas dunia. Mari warnai
dunia dengan kreativitas dalam menulis.
Penulis,
Nama:
Alfons M. Sroyer
TTL:
Biak, 15 Agustus 1988
Alamat:
Asrama Tingkat UNIPA Blok I (Metroxylon)
Mahasiswa
Fakultas Sastra universitas Negeri Papua Angkatan 2007
Tidak ada komentar:
Posting Komentar