Senin, 21 April 2014

Memperingati Hari Kartini dan 365 Hari Wanita (isu internasional)


Dua pejabat tinggi Iran yakni Presiden Hassan Rouhani dan pemimpin tertinggi Ayatollah Ali Khamenei bersilang pendapat dalam hal kesetaraan gender. Hari minggu kemarin 20 April 2014 yang diperingati sebagai hari Perempuan, di Iran Presiden Hassan Rouhani menyerukan agar perempuan dan laki-laki diberi hak yang sama. Dalam acara yang dihadiri oleh kalangan elite perempuan Iran, Presiden Hassan Rouhani menyatakan "Saya, sebagai kepala pemerintahan, mengakui terdapat begitu banyak kekurangan terkait dengan pembelaan hak-hak perempuan.” Beliau juga menambahkan bahwa "berdasarkan kriteria Islam, kami tidak memandang laki-laki sebagai jenis kelamin pertama atau perempuan sebagai jenis kelamin kedua. Mereka sama-sama mempunyai martabat manusia dan tak satu pun dari mereka yang lebih tinggi dibanding lainnya." Pernyataan tersebut bersebrangan dengan pemimpin tertinggi Ayatollah Ali Khamenei, ia menyatakan bahwa persamaan gender merupakan konsep Barat yang harus dijauhi. Ia juga mengatakan bahwa kaum perempuan harus memusatkan perhatian pada kewajiban-kewajiban mereka dalam mengurus keluarga. Pernyataan tersebut dapat memberi suatu pandangan atau asumsi bahwa dua pemimpin tinggi di Iran masih belum sepihak mengenai masalah kesetaraan gender, dari pernyataan-pernyataan diatas artinya Iran masih mengalami perbedaan serta ketimpangan dan masih ada batas-batas berdasarkan posisi total mereka dalam susunan stratifikasi atau faktor penindasan dan hak istimewa berdasar kelas, ras, etnisitas, umur, status perkawinan, dan posisi global. Maka dapat dilihat bahwa sistem patriarki masih sangat kental disana. Secara terminologi patriarki digunakan untuk pemahaman kekuasaan laki-laki, hubungan kekuasaan dengan apa laki-laki menguasai perempuan, serta sistem yang membuat perempuan tetap dikuasai melalui bermacam-macam cara. Jelas keadilan belum benar diterapkan bila kenyataannya seperti itu.
Hal ini sangat berbeda dengan bangsa kita Indonesia yang menjunjung tinggi masalah gender. Sebagai negara dengan jumlah penduduk terbesar ke empat di dunia, kesetaraan gender sudah terbukti sangat dijunjung oleh bangsa ini. Masalah persamaan hak (gender) sudah dari zaman sejarah diperjuangkan oleh seorang tokoh terkenal yakni Raden Ajeng (RA) Kartini yang kini menjadi simbol perjuangan perempuan, dan diperingati pada hari ini Senin,  21 April. Indonesia sudah pernah menoreh sejarah dengan tinta emas yaitu bahwa perempuan sudah pernah mencapai tampuk kepemimpinan tertinggi di negeri ini, yaitu Presiden Megawati Soekarnoputri. Dewasa ini juga sudah banyak perempuan Indonesia yang menduduki posisi-posisi penting baik dalam negeri maupun internasional. Hal ini memperlihatkan kepada dunia bahwa Indonesia sebagai negara majemuk sudah menjalankan keadilan sosial dan budaya. Isu gender sudah menjadi isu global, Indonesia sudah merubah tantangan itu menjadi peluang, dan hal ini menjadi aset diplomasi di bidang sosial budaya. Tinggi rendahnya kualitas seseorang hanya terletak pada tinggi-rendahnya kualitas pengabdian. Intinya selama keadilan masih bisa dijaga dan ditegakan maka isu jender tidak perlu dipandang sebagai masalah. Setiap warga negara harus diberi ruang untuk bergerak aktif dalam mengisi kemerdekaan negaranya.