Sedikit Tentang Kebebasan
Saat itu aku tak tidur hingga surya diiringi kicauan burung dan ku lihat indahnya embun menetes lenyap. Getar tanganku saat menulis padahal aku ingin menulis tentang apa yang berkecimpung dalam benak. Segelas kopi meracuni waktu istirahatku, aku mulai berpikir tentang sosok sebuah kebebasan yang mengawang di tirai kehidupan. Ada yang memiliki kelebihan, ada yang memiliki kekurangan. Sebenarnya keselarasan hidup ini ada dimana? Di jalanan?, di terminal? Atau didalam kamar?.
Garis pandang masa depan sering kali ditarik dari udara kemudian masuk kedalam paru-paru si pemikir namun ketika itu dihirup , sering kali menyesakkan dada dan memberi celah bagi pikiran buruk untuk tertawa. Bila ada seorang pemimpin duduk dalam ruangannya, sering kali ia membersihkan kotoran kukunya akibat liarnya jari menggaruk sebuah benda atau badan sendiri, semua itu agar hasil kekotorannya tak terlihat. Apa aku salah? Apakah potret realita ini tak pernah kau lihat saudaraku?. Banyak kini penoropong jiwa yang di jual di setiap sudut jalanan, penuh debu dan tawar menawar yang tak pernah lelah. Itulah yang merusak persepsi dalam kata-kata, katanya penuh makna.
Aku punya beberapa sahabat yang menyembunyikan masalah dalam lumbung tawa, namun pada saat cuaca menjadi hening dan waktu melemah berputar, meraka mengungkapkan perkaranya bagaikan daun kuning yang telah tiba masanya untuk jatuh dari pohon, seakan kecewa karena tak ada buah. Ku katakan padanya “yang kau butuh adalah kebebasan” dia bingung kebebasan apa yang ku maksud, katanya ia telah sangat bebas saat ini tak ada yang melarangnya atau membatasinya. Aku tersenyum dan berkata padanya bahwa kini ia sedang diikat bahkan dililit rantai penyesalan penuh duri keresahan, “Kau tak bebas, kau belum merdeka karena pikiranmu sedang dijepit sesal, bila kau merasa merdeka mengapa kau menyesali semua yang telah kau buat?, kenapa kau sendiri membiarkan dirimu terikat dengan kecewa? Hingga jiwamu kini tak bebas, bukankah kebebasan itu dapat kau raih dengan renungan untuk menjadi lebih baik terhadap hari esok? lihat, dunia ini punya musim, kau masih bisa merdeka, jangan biarkan jiwamu terkulai dengan lilitan baru yang kau sendiri cipta”
23, Sep 2010
.
Alfons Sroyer
Tidak ada komentar:
Posting Komentar