Suara
hati di kala senja
Kian terasa di ujung
timur
Mentari pulang
di selaput senja
Ombak bergumul
di pintu samudra
Tinta emas mewarnai pelataran laut
Unggas pun pulang ke tempatnya
dengan siulan bak tudung membungkus permata
Menutup
hari ini dengan gelap untuk dibuka di esok hari
Ketika
kau dan aku terbangun untuk menikati karya Tuhan di hari yang baru
Aku pengelana
sepi, penggores cinta di dinding alam
Mencintai setiap
orang meski bertemu kelam
Hingga ketika
hari lemah di telapak malam
Lahirlah syair
sebagai lantunan hati anak negeri di kelembaban surga Papua
*Cinta ku pada alam tak
terbenam*, Alfons M. Sroyer, 13 Agustus 2011
Tidak ada komentar:
Posting Komentar